Tata Cara Wudhu, Urutan Wudhu, Doa Wudhu, yang Membatalkan Wudhu

August 09, 2018 Add Comment
Tata Cara Wudhu, Urutan Wudhu, Do'a Wudhu, yang Membatalkan Wudhu - Setiap manusia memiliki kewajiban, dan salah satu kewajiban umat islam adalah beribadah, ibadah bisa dikategorikan dalam banyak bentuk, dan salah satu ibadah wajib yang harus dilakukan setiap hari adalah Sholat, Sholat dilakukan lima kali sehari dengan urutan mulai dari shubuh, dzhuhur ,ashar, magrib hingga isya. Selama lima kali itupula kita melakukan wudhu yang sudah menjadi syarat sahnya sholat.


Wudhu juga tidak bisa dilakukan secara acak karena wudhu memiliki tata urutan tersendiri seperti niat, membasuh tangan, berkumur-kumur, membasuh hidung, membasuh muka, membasuh kedua tangan hingga kesiku, membasuh jidat, membasuh kedua telinga, membasuh kedua kaki hingga mata kaki, dan membaca doa setelah berwudhu.

Setiap perbuatan, memiliki niat/doa, begitu pula dengan setiap gerakan pada wudhu, ada doa-doa tertentu yang disunnahkan untuk dibaca ketika berwudhu, setiap mukmin akan berlomba-lomba untuk mencari pahala dalam setiap amal perbuatannya dengan melakukan sunnah-sunnah Seperti yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Recomendasi Bacaan: 

 

Tata Cara Wudhu, Urutan Wudhu, Do'a Wudhu, yang Membatalkan Wudhu

Berikut ini adalah tata urutan  Berwudhu berikut doa-doanya  yang biasa digunakan sehari-hari lengkap dengan latin dan terjemahannya:

Disunnahkan pula membaca basmalah saat akan mengerjakan wudhu sambil membersihkan kedua telapak tangan hingga pergelangan.

1. Berkumur

Doa yang dibaca ketika berkumur:
اللَّهُمَّ اَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

"Allahumma aini alay dzikrika wasukrika wahusni ibadatika"

Artinya:  “Ya Allah, bantulah aku supaya aku dapat berzikir kepadaMu, dan bersyukur kepadaMu, dan perelok ibadah kepadaMu.”

Catatan: Membersihkan mulut dengan berkumur-kumur sebanyak tiga kali juga merupakan sunnah yang diajarkan oleh rasulullah. sehingga saat sedang puasa, tidak berkumur saat wudhu pun tidak masalah jika khawatir akan masuk ketenggorokan san menyebabkan puasa batal.

2. Membasuh Hidung

Doa yang dibaca ketika membasuh hidung:

اَللَّهُمَّ أَرِحْنِي رَائِحَة الجَـنَّةْ

 “Allahuma arihniy roihata janat.”
Artinya : “Ya Allah, berilah aku ciuman daripada haruman bau Syurga.” 
Catatan: Membasuh hidung dengan cara menghirup air kedalam hidung dan mengeluarkannya sebanyak 3 kali juga merupakan salah satu sunnah berwudhu.

3. Membasuh Muka

Do'a yang sunnah dibaca ketika membasuh muka:

اَللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِى يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ

“Allahuma bayadh wajhi yawmatabyaht wujudhu wataswadu wujdhu.”

Artinya : “Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari putihnya wajah-wajah dan hitamnya wajah-wajah.”

Lalu mengucapkan Bacaan Niat Wudhu:

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَلِرَفْعِ الْحَدَثِ الْاَصْغَرِفَرْضًالِلّٰهِ تَعَالٰى"

Nawaitul whudu-a lirof'il hadatsii ashghori fardhon lillaahi ta'aalaa

Artinya : "Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadast kecil fardu (wajib) karena Allah ta'ala"

Catatan: Mengenai posisi niat dalam persoalan Wudhu ini, masing ulama mazhab berbeda pendapat. Dan pendapat-pendapat tersebut bisa dibaca dibawah ini:

- Mazhab al Hanafiyyah

Kalangan al Hanafiyyah pendapat bahwa niat wudhu itu sunnahnya dilakukan ketika awal membasuh tangan. Hal ini agar semua pekerjaan dalam wudhu bukan hanya yanag wajib tapi juga yang sunnah bernilai ibadah.

- Mazhab al Malikiyyah

Kalangan Malikiyyah agak sedikit kurang kompak dalam permassalahan ini, sebagian berpendapat bahwa niat adalah ketika membasuh wajah dan boleh dilakukan sebelum itu, tidak setelahnya, sedangkan sebagiannya berpandapat seperti pendapat kalangan mazhab Hanafi,niat adalah diawal memulai aktivitas wudhu.

- Mazhab asy Syafi’iyyah

Mazhab ini berpendapat bahwa niat wudhu wajib dilakukan ketika awal mulai membasuh kedua wajah. Hal ini dikarenakan bahwa pekerjaan awal yang wajib dalam wudhu adalah membasuh wajah, sedangkan pekerjaan yang mendahuluinya seperti membasuh telapak tangan, berkumur-kumur dan lainnnya hukumnya hanya sunnah.

Sahkah bila niat dilakukan diawal pekerjaan wudhu sebelum memabasuh wajah menurut mazhab Syafi’iyyah ?

Sebagian kalangan mazhab Syafi’i bersikukuh tidak sah wudhu dengan niat pada sesudah maupun sebelum membasuh wajah, sedangkan pendapat yang adhar (kebanyakan) ulama mazhab ini berpendapat hal ini dibolehkan bahkan mustahab.

- Mazhab al Hanabilah

Kalangan ulama mazhab Hanabilah memiliki pendapat yang sama dengan kalangan Syafi’iyyah dalam permasalahan niat wudhu ini.

4. Membasuh Tangan Kanan

Doa yang dibaca ketika membasuh tangan kanan:


اَللَّهُمَّ اَعْطِنِى كِتاَبِى بِيَمِيْنِى وَحَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيْرًا

“Allahumma a’tini kitabiy biyamiyni wahasibni hisaban yasiyron.”

Artinya : “Ya Allah! berikanlah kepadaku kitabku dari sebelah kanan dan hitunglah amalanku dengan perhitungan yang mudah.”

Catatan: Membasuh tangan dengan mendahului yang kanan adalah sunnah, jadi tidak masalah apabila tangan kiri didahulukan saat membasuh tangan. Yang harus diperhatikan adalah membasuh tangan harus sampai siku.

5. Membasuh Tangan kiri hingga ke siku.

Bacaan Doanya: 
اَللّٰهُمَّ لاَ تُعْطِنِى كِتاَبِى بِشِمَالِى وَلاَمِنْ وَرَاءِ ظَهْرِىْ

"Allohumma Laa Ta'thini Kitabi bisyimali walaa min waro'i dzohri"

Artinya: "Ya Allah jangan Engkau berikan kepadaku kitab amal dari tangan kiriku atau pada belakang punggungku"

6. Mengusap Rambut Kepala Sedikit

Doa mengusap rambut kepala:
اَللّٰهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ عَلَى النَّارِ

"Allohumma harrim sya'ri wabasyari 'Alannari"

Artinya:"Ya Allah haramkan rambutku dan kulitku atas api neraka"

7. Membasuh telinga Membasuh kedua telinga, kanan dan kiri.
Berikut ini doanya:
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ اْلقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ


"Allohummaj'Alni minalladzina yastami'unal Qoula fayattabi'una ahsanahu"

Artinya: "Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengarkan nasehat dan mengikuti sesuatu yang terbaik"

Catatan: Membasuh telinga Membasuh kedua telinga kanan dan kiri merupakan salah satu sunnah juga.

8. Membasuh kaki kanan hingga mata kaki Membasuh kaki pun tidak masalah jika mendahulukan kaki kiri karena mendahulukan yang kanan merupakan sunnah. 

 Doanya sebagai berikut:
اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ قدَمَيَّ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تُثَبِّتُ فِيْهِ اَقْدَامَ عِبَادِكَ الصَالِحِينَ


"Allohumma Tsabbit Qodamayya 'Alaas Syirothi yauma tutsabbitu fiihi Aqdama 'ibaadikas shoolihiin"

Artinya: "Ya Allah, mantapkan kedua kakiku di atas titian (shirothol mustaqim) pada hari dimana banyak kaki-kaki yang tergelincir"

9. Membasuh kaki kiri hingga mata kaki

اَللّٰهُمَّ لَاتَزِلُّ قدَمَيَّ عَلَى الصِّرَاطِ فِي النَّارِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيْهِ اَقْدَامُ الْمُنَافِقِيْنَ وَالْمُشْرِكِينَ

"Allohumma laa tazillu Qodamayya 'Alaa Syirothi fin naar yauma tazillu fiihi Aqdamul munaafiqiina wal musyrikiina"

Artinya: "Ya Allah jangan kau gelincirkan langkah (pendirianku) pada jalan neraka pada hari digelincirkannya langkah (pendirian) orang-orang munafik dan orang-orang musyrik"

Jika semuanya sudah selesai secara urut dan merata, terus menghadap kiblat lalu membaca do'a ini:
Doa Setelah Berwudhu
اَشْهَدُ اَنْ لاَّاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِىْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِىْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

"Asyhadu allaa ilaaha illalloohu wahdahuu laa syariika lahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhuuwa rosuuluhuu, alloohummaj’alnii minat tawwaabiina waj’alnii minal mutathohhiriina"

Artinya: "Aku bersaksi, tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku mengaku bahwa Nabi Muhammad itu adalah hamba dan Utusan Allah. Ya Allah, jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci"


Adapun sunnah -sunnah lain dalam berwudhu adalah seperti: 

  • Menyilang-nyilang antara jari-jari tangan dan kaki
  • Setiap basuhan sebanyak 3 kali
  • menghadap kearah Kiblat saat berwudhu
  • Tidak berbicara ketika sedang berwudhu.
  • Membaca doa sesusah berwudhu yang berbunyi:

Adapun hal-hal yang akan membatalkan wudhu adalah sbb:

  • Keluar sesuatu dari dua lubang (kubul dan dubur)
  • Hilang akal karena gila, pingsan, mabuk, dan tidur nyenyak.
  • Tersentuh kulit antara pria dan wanita yang bukan mahramnya dengan tidak memakai pembatas/tutup.
  • Tersentuh kemaluan dengan telapak tangan atau jari jari dengan tidak menggunakan tutup.


Nah , diatas tadi adalah doa-doa berwudhu, hal yang membatalkan wudhu , tata urutan, dan sunnah sunnah berwudhu yang biasa kita gunakan sehari-hari, tentu doa-doa tersebut tidaklah rumit untuk diamalkan karena Allah pun tidak pernah hitung-hitungan memberikan rezeki dan pahala untuk setiap umatnya. Karena setiap amalan ada ganjaran begitupun sunnah yang dikerjakan , semoga bermanfaat dan membantu dalam proses pembelajaran.
Sekian dan terima kasih.

Inilah Dalil Khutbah Idul Fithri dan Idul Adha

August 08, 2018 Add Comment
Inilah Dalil Khutbah Idul Fithri dan Idul Adha - Alhamdulillah sahabat blog: ceramah zainudin mz yang kami hormat dan kami cintai, kami rasa sungguh suasana yang pas untuk memposting masalah mengenai kedua perayaan kebanggaan umat islam ini. Baik idul fithri maupun idul Adha, karena memang tinggal menghitung hari, tidak akan lama lagi kita akan merayakaan hari raya kebanggan kita tersebut, yakni idul Adha.


Dalil Khutbah Idul Fithri dan Idul Adha - memang sudah umum dimasyarakat kita, menjadi rahasia umum termasuk kami sendiri, rajin mengikuti kegiatan yang berupa ritual keagamaan tanpa harus tahu dulu dasar hukum atau dalilnya. begitu juga berkenaan dengan idul adha ini, dimana pada pelaksanaan shalat idul adha ini ada pelaksaan khutbah.

Yang akan kita bahas disini yaitu dasar Dalil Khutbah Idul Fithri dan Idul Adha, semoga setelah kita mengetahui dan mengerti dasar dalil keduanya, ibadah-ibadah yang kita laksanakan lebih mantab, yakin dan khusuk karena tidak ada keraguan sedikitpun. Aamin

Recomendasi Bacaan:

Inilah Dalil Khutbah Idul Fithri dan Idul Adha

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari ( (HR. al-Bukhari dan Muslim) sebagai berikut:


Artinya: Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, “Saya ikut shalat ‘Ied bersama Rasulullah Saw. Beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah. Tanpa ada azan dan iqamat. Kemudian Rasulullah Saw tegak bertumpu kepada Bilal. Rasulullah Saw memerintahkan agar bertakwa kepada Allah Swt, memberikan motifasi agar taat kepada-Nya, memberikan nasihat kepada orang banyak dan mengingatkan mereka. Kemudian Rasulullah Saw pergi kepada kaum perempuan. Rasulullah Saw memberikan nasihat kepada mereka dan mengingatkan mereka. Rasulullah Saw berkata, “Bersedakahlah kalian, sesungguhnya banyak diantara kalian menjadi kayu bakar neraka Jahannam”.

Ada seorang perempuan yang berada di tengah barisan kaum perempuan, kedua pipinya memiliki tanda hitam, ia berkata, “Mengapa wahai Rasulullah?”.

Rasulullah Saw menjawab, “Karena kalian banyak membuat pengaduan dan melawan suami (dalam pergaulan)”. Lalu para perempuan itu bersedekah dengan perhiasan yang ada pada mereka, mereka memasukkannya ke kain Bilal, mereka berikan sebagian dari anting-anting dan cincin mereka”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Mereka yang berpendapat bahwa khutbah shalat ‘Ied itu hanya satu saja, mereka berpegang dengan hadits ini, menurut mereka Rasulullah Saw hanya satu kali menyampaikan khutbah. Sedangkan yang mengatakan ada dua khutbah, mereka juga berpegang dengan hadits ini, karena dalam hadits ini memang Rasulullah Saw khutbah dua kali, satu kali khutbah kepada kaum laki-laki dan satu kali kepada kaum perempuan. Mereka yang mengatakan khutbah ‘Ied dua kali juga mengqiyaskan khutbah ‘Ied dengan khutbah Jum’at yang terdiri dari dua khutbah; khutbah pertama dan kedua. Untuk lebih jelasnya kita lihat pendapat para ulama:

Dalil Khutbah Idul Fithri dan Idul Adha - Pendapat Imam Syafi’i:



Artinya: Imam Syafi’i berkta, “Ibrahim bin Muhammad meriwayatkan kepada kami, ia berkata, ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Abdillah meriwayatkan kepada saya, dari Ibrahim bin Abdillah bin ‘Ubaidillah bin Abdillah bin ‘Utbah, ia berkata, “Sunnah seorang khatib berkhutbah dua khutbah pada shalat ‘Ied (Idul Fitri atau Idul Adha). Dua khutbah itu dipisah dengan duduk.

Imam Syafi’i berkata, “Demikian juga dengan khutbah shalat Istisqa’, khutbah shalat Kusuf (gerhana matahari), khutbah haji dan semua khutbah jamaah

Dalil Khutbah Idul Fithri dan Idul Adha -  Pendapat Empat Mazhab:


Artinya:  Disunnatkan menurut jumhur (mayoritas ulama), dianjurkan menurut Mazhab Maliki, dua khutbah pada shalat ‘Ied, seperti khutbah Jum’at dalam hal rukun, syarat, sunnat-sunnat dan halhal makruhnya. Dilaksanakan setelah shalat ‘Ied, berbeda dengan shalat Jum’at (khutbah sebelum shalat Jum’at). Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama kaum muslimin dalam masalah ini.

Dalil Khutbah Idul Fithri dan Idul Adha -   Pendapat Syekh Ibnu ‘Utsaimin:


Artinya: 
Pertanyaan: mana yang sesuai menurut Sunnah dalam khutbah ‘Ied. Dua khutbah atau satu khutbah? Kami mohon jawaban detail tentang itu.

Jawaban: Yang masyhur menurut sebagian ulama Mazhab Hanbali bahwa khutbah ‘Ied itu dua khutbah; khutbah pertama dan khutbah kedua. Jika seseorang berkhutbah hanya satu khutbah saja, tanpa  ada unsur ingin menimbulkan fitnah (di tengan masyarakat), maka boleh. Jika khawatir menimbulkan fitnah, orang banyak menjadi sibuk, setiap orang berpegang pada pendapat mazhabnya, maka dalam kasus seperti ini cukuplah mengikuti kebiasaan yang sudah dilakukan orang banyak, agar tidak membuka pintu (konflik) di tengah-tengah masyarakat.


Mengenai Takbir Dalam Khutbah ‘Ied, Pendapat Imam Syafi’i:


Artinya:  Imam Syafi’i berkata, “Ibrahim bin Muhammad meriwayatkan kepada kami, dari Abdurrahman bin Muhammad bin Abdillah, dari Ibrahim bin Abdillah dari ‘Ubaidillah bin Abdillah bin ‘Utbah, ia berkata, “Sunnah hukumnya bertakbir pada hari raya Idul Adha dan Idul Fithri di atas mimbar sebelum khatib memulai khutbah, khatib tegak di atas mimbar berkhutbah sembilan takbir berturut-turut tanpa dipisah kalimat diantaranya, kemudian menyampaikan khutbah. Kemudian duduk (istirahat antara dua khutbah). Kemudian khatib tegak berdiri pada khutbah kedua, mengawali khutbahnya dengan tujuh kali takbir berturut-turut tanpa dipisah kalimat diantaranya. Kemudian menyampaikan khutbah (kedua).

Mengenai Takbir Dalam Khutbah ‘Ied, Pendapat Ulama Mazhab:


Artinya:  Menurut Jumhur (mayoritas) ulama: khatib bertakbir sembilan takbir berturut-turut pada khutbah pertama. Tujuh takbir berturut-turut pada khutbah kedua. Berdasarkan riwayat Sa’id bin Manshur dari ‘Ubaidullah bin ‘Utbah, ia berkata, “Imam bertakbir shalat Idul Fithri dan Idul Adha sebelum berkhutbah, Sembilan takbir pada khutbah pertama dan tujuh takbir pada khutbah kedua

Alhamdulillah.. demikianlah postingan kita kali ini mengenai Dalil Khutbah Idul Fithri dan Idul Adha, hukum Tabkir dalam khutbah sholat ied, menurut pendapat imam Syafi'i dan pendapat Ulama Mazhab.

Hukum Membaca Ta-awudz Ketika akan membaca al-Fatihah dan Surah dalam shalat

August 08, 2018 Add Comment
Hukum Membaca Ta'awudz (A’udzubillah) Ketika akan membaca al-Fatihah dan Surah dalam shalat - Selamat pagi para pembaca setia blog: ceramah zainudin mz yang kami hormati, mungkin anda atau saya juga pernah mendengar, ketika dalam shalat berjama'ah imam membaca Ta'awudz (A’udzubillah). Posisinya ketika imam hendak membaca surat al-Fatihah dan ketika akan membaca surah dalam shalat.


Apa sebenarnya Hukum Membaca Ta'awudz (A’udzubillah) Ketika akan membaca al-Fatihah dan Surah dalam shalat itu? sebab yang menjadi pertanyaan jika memang disunahkan, kenapa imam sahalat ada yang membaca Ta'awudz (A’udzubillah), dan ada sebagian yang tidak membaca? atau mungkin membaca Ta'awudz (A’udzubillah) tersebut, tetapi tidak di zahrkan (dikeraskan).

Recomendasi Bacaan:


Hukum Membaca Ta'awudz (A’udzubillah) Ketika akan membaca al-Fatihah dan Surah dalam shalat 

Pertanyaan :
Ketika akan membaca al-Fatihah dan Surah, apakah dianjurkan membaca Ta’awwudz (A’udzubillah)?

Jawaban: Ulama tidak sepakat dalam masalah ini, dibawah ini adalah pendapat dari 4 Mazhab, Mazhab Maliki, Mazhab Hanafi, Mazhab Syafi'i dan Mazhab Hambali:


Mazhab Maliki: Makruh hukumnya membaca Ta’awwudz dan Basmalah sebelum al-Fatihah dan Surah

berdasarkan hadits Anas: “Sesungguhnya Rasulullah Saw, Abu Bakar dan Umar mengawali shalat mereka dengan membaca alhamdulillahi rabbil’alamin”.

Mazhab Hanafi: Mengucapkan Ta’awwudz pada rakaat pertama saja.

Mazhab Syafi’i dan Hanbali: Dianjurkan membaca Ta’awwudz secara sirr pada awal setiap rakaat

sebelum membaca al-Fatihah, dengan mengucapkan:
Artinya: (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk).

Dari Imam Ahmad, ia berkata:
Artinya: "Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk".

Dalilnya adalah hadits riwayat Imam Ahmad dan at-Tirmidzi dari Abu Sa’id al-Khudri, dari Rasulullah Saw, ketika Rasulullah Saw akan melaksanakan shalat, beliau mengawali dengan mengucapkan: [ ] (Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Mengetahui dari setan yang terkutuk, dari bisikannya, kesombongan dan sihirnya). Ibnu al-Mundzir berkata:

 “Diriwayatkan dari Rasulullah Saw bahwa beliau mengawali bacaan dengan:

Artinya:  "Aku berlindung kepada Allah dari  setan yang terkutuk"

Kemudian beliau mengucapkan
Artinya: "dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

Dibaca sirr menurut Mazhab Hanafi dan Hanbali.

Dibaca Jahr menurut Mazhab Syafi’I, mereka berdalil tentang disunnahkannya Ta’awwudz berdasarkan firman Allah: “Apabila kamu membaca Al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”. (Qs. an-Nahl [16]: 98)

Demikianlah dalil dasar hukum Hukum Membaca Ta'awudz (A’udzubillah) Ketika akan membaca al-Fatihah dan Surah dalam shalat, semoga kita semua bisa memahami dan saling menghormati perbedaan pendapat, dari mazhab yang berbeda.



Inilah Hukum Shalat di Masjid ada Kuburannya

August 06, 2018 Add Comment
Inilah Hukum Shalat di Masjid ada Kuburannya - Selama ini mungkin kita pernah mendengar ada sebagian orang yang mengatakan, bahwa shalat di masjid yang ada kuburannya dilarang atau tidak diperbolehkan. Tak ayal masalah perbedaan inipun membuat keresahan dikalangan kaum muslimin itu sendiri, biasanya baik yang mendengar dan yang menyampaikan tanpa dilandasi dengan pemahaman yang cukup untuk membahas hukum shalat dimasjid yang ada kuburannya ini.
larangan masjid ada kuburannya

Hukum Shalat di Masjid ada Kuburannya - Pertama yang perlu perlu perjelas dulu pokok permasalahannya, ada tiga bagian yang harus kita bedakan sebagai berikut:

  • Apakah menjadi kuburan sebagai masjid?
  • Ataukah shalat menghadap ke arah kuburan?
  • Yang terakhir shalat dimasjid yang ada kuburan disekitarnya? 

Pada pembahasan masalah tiga diatas tentu saja tidak bisa menjadi satu jawaban, sebab akan menjadi rancu dan tidak akan menjawab kepada pokok permasalahan yan sebenarnya.

Recomendasi Bacaan:

Inilah Hukum Shalat di Masjid ada Kuburannya

 - Hadits Larangan Menjadikan Kuburan Untuk Masjid




Artinya:  “Allah Swt melaknat orang Yahudi dan Nashrani karena telah menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Pertanyaanya: Apakah makna hadits ini melarang dan tidak boleh shalat di masjid yang ada kuburannya?

Mari kita simak pendapat  Imam Abu al-Hasan as-Sindi dibawah ini:

Artinya: Yang dimaksudkan Rasulullah Saw dengan itu, ia memperingatkan ummatnya agar tidak melakukan terhadap kuburnya seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap kubur para nabi mereka, mereka telah menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat sujud, apakah dengan bersujud ke kubur karena mengagungkan kubur atau menjadikan kubur sebagai arah dalam ibadah, atau sejenisnya. Ada pendapat yang mengatakan: hanya sekedar membangun masjid di samping kubur orang shalih untuk mengambil berkah tidak dilarang

 Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani Menukil Pendapat Imam al-Baidhawi sebagai berikut:


Artinya: Imam al-Baidhawi berkata, “Ketika orang-orang Yahudi dan Nasrani sujud ke kubur para nabi karena mengagungkan mereka dan menjadikan kubur-kubur itu sebagai arah kiblat, mereka beribadah menghadap ke kubur-kubur itu dalam ibadah dan sejenisnya, mereka jadikan kubur kubur itu sebagai berhala-berhala, maka Rasulullah Saw melaknat mereka dan melarang kaum muslimin untuk melakukan seperti itu. Adapun orang yang membuat masjid di samping makam orang shalih untuk berkah kedekatan, bukan untuk pengagungan, bukan pula sebagai arah ibadah atau sejenisnya, maka tidak termasuk dalam ancaman tersebut.

Imam al-Mubarakfury menukil pendapat Imam at-Turbasyti sebagai berikut:


Artinya:  Imam at-Turbasyti berkata, “Ini adalah solusi terhadap dua perkara; pertama, orang-orang Yahudi dan Nasrani sujud ke kubur nabi-nabi mereka karena pengagungan dan niat ibadah.

Kedua, mereka mencari kesempatan beribadah di kubur para nabi dan menghadap ke kubur-kubur itu dalam ritual ibadah, menurut mereka perbuatan itu agung di sisi Allah karena mengandung dua perkara: ibadah dan sikap berlebihan dalam mengagungkan para nabi.

Kedua cara ini tidak diridhai Allah Swt. Cara pertama itu syirik jaly (yang jelas), sedangkan cara yang kedua itu mengandung makna mempersekutukan Allah Swt, meskipun khafy (tersembunyi).

Dalil celaan terhadap dua perkara ini adalah sabda Rasulullah Saw, “Janganlah kalian jadikan kuburku sebagai berjala. Murka Allah Swt amat sangat besar terhadap orang-orang yang menjadikan kubur para nabi mereka sebagai tempat ibadah

- Hadits Larangan Shalat menghadap ke Kuburan

Artinya: Dari Abu Martsad al-Ghanawi, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Janganlah kamu shalat ke kubur dan janganlah kamu duduk di atas kubur”. (HR. Muslim).

Bagaimana menurut Pendapat Imam Syafi’i mengenai hal diatas? adalah sebagai berikut:



Artinya:  Imam Syafi’i dan para ulama Mazhab Syafi’i berpendapat: makruh hukumnya shalat ke (arah) kubur, apakah mayat itu shalih atau tidak.

Atsar dari Umar: Shalat Menghadap Kubur Tidak Batal.


Artinya: Makna kalimat: makruh shalat di kubur. Mengandung makna: jika shalat di atas kubur, atau ke (arah) kubur, atau di antara dua kubur.

Dalam hal ini ada hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari jalur riwayat Abu Martsad al-Ghanawi, hadits Marfu’, “Janganlah kamu duduk di atas kubur dan janganlah shalat ke (arah) kubur atau di atas kubur”. Hadits ini bukan menurut syarat Imam al-Bukhari, ia sebutkan di awal bab.

Disebutkan bersamanya satu Atsar dari Umar yang menunjukkan bahwa Umar melarang melakukan itu, namun tidak mengandung makna bahwa shalat tersebut batal. Atsar tersebut dari Umar, kami riwayatkan secara bersambung dalam kitab
shalat, riwayat Abu Nu’aim guru Imam al-Bukhari, lafaznya: “Ketika Anas shalat ke arah kubur.

Umar memanggilnya dengan mengatakan, ‘(Awas) Kubur, kubur!’. Anas menyangka Umar mengatakan, ‘Bulan’. (karena kemiripan bunyi kalimat. Kubur: qabr. Bulan: qamar).

Ketika Anas melihat bahwa yang dimaksud Umar adalah kubur, maka ia pun melewati kubur itu dan melanjutkan shalatnya. Ada beberapa jalur riwayat lain yang telah saya (Al-Hafizh Ibnu Hajar) jelaskan dalam Ta’liq at-Ta’liq, diantaranya jalur riwayat Humaid dari Anas, riwayat yang sama, dengan tambahan kalimat: “Sebagian orang yang berada di sekitarku (Anas) mengatakan bahwa yang dimaksud Umar adalah kubur. Maka aku pun bergeser dari tempat itu.


Kalimat: Umar tidak memerintahkan Anas mengulangi shalatnya. Ia ambil kesimpulan dari perbuatan Anas melanjutkan shalatnya. Andai shalat Anas batal, pastilah Anas menghentikan shalatnya dan memulai shalat baru.

Dari pembahasan di atas jelaslah bahwa shalat di masjid yang ada kubur di sekitarnya tidak dilarang. Apalagi ada dinding dan jarak antara kubur dan masjid. Yang dilarang adalah menjadikan kubur sebagai masjid, shalat menghadap kubur, karena mengandung unsur syirik mempersekutukan Allah Swt.

 

Pendapat dan Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Qunut Shubuh.

August 05, 2018 Add Comment
Pendapat dan Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Qunut Shubuh - Alhamdulillah.. pada dua postingan sebelumnya kita sudah membahas, bagaimana sebenarnya posisi hukum membaca Do'a Qunut dalam Shalat Shubuh, postingan pertama yaitu: hadits dalil yang mendukung serta menganjurkan membaca qunut shubuh, sedangkan pembahasan postingan yang kedua, kita telah sampaikan dasar dalil hadits yang menolak membaca do'a qunut subuh ini.

pendapat imam syafi'i tentang qunut shubuh


Pendapat dan Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Qunut Shubuh - kali ini kita kan kupas bagaimana mengenai pendapat Imam Sfafi'i tentang bagaimana mengenai membaca do'a dalam Qunut Shubuh.

Recomendasi Bacaan:

Pendapat dan Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Qunut Shubuh

1. Pernyatan Pertama: Doa Qunut Hanya ada Pada Shalat Shubuh.

Yang Artinya:  Tidak ada doa Qunut dalam shalat-shalat, kecuali pada shalat Shubuh. Kecuali jika terjadi bencana, maka membaca doa Qunut dalam semua shalat, jika imam berkehendak

2. Pernyatan Kedua:  Jika Terlupa, Maka Sujud Sahwi.

Menurut Imam Syafi’i, Qunut shubuh itu bagian dari amal shalat Shubuh, jika terlupa, maka mesti sujud Sahwi. Imam Syafi’i berkata dalam kitab al-Umm:
Yang Artinya:  Jika seseorang meninggalkan doa Qunut pada shalat Shubuh, maka ia sujud Sahwi. Karena doa Qunut itu bagian dari amal shalat, dan ia telah meninggalkannya

3. Pernyatan Ketiga:   Qunut Shubuh Lebih Dahulu Daripada Qunut Nazilah.


Yang Artinya:  Membaca Qunut pada shalat Shubuh setelah rakaat kedua. Rasulullah Saw membaca Qunut, menurut pengetahuan kami Rasulullah Saw tidak pernah meninggalkan Qunut Shubuh sama  sekali. Rasul membaca Qunut ketika datang berita pembunuhan di sumur Ma’unah selama lima belas malam, beliau berdoa (laknat) untuk orang-orang musyrik dalam semua shalat, kemudiansetelah itu Rasulullah Saw meninggalkan doa Qunut dalam  semua shalat. Adapun pada shalat Shubuh, saya (Imam Syafi’i) tidak mengetahui bahwa Rasulullah Saw meninggalkan Qunut Shubuh. Bahkan sepengetahuan kami bahwa Rasulullah Saw sudah membaca doa Qunut Shubuh sebelum peristiwa pembunuhan di sumur Ma’unah, kemudian dilanjutkan setelah peristiwa itu. Abu Bakar, Umar, Ali bin Abi Thalib, dan pada sebagian masa pemerintahan Utsman, semuanya membaca Qunut Shubuh setelah Rasulullah Saw.

4. Pernyatan Keempat:   Qunut Shubuh Menurut Mazhab Syafi’i:

 Yang Artinya:  Adapun Qunut, maka dianjurkan pada I’tidal kedua dalam shalat Shubuh berdasarkan riwayat Anas, ia berkata: “Rasulullah Saw terus menerus membaca doa Qunut pada shalat Shubuh hingga beliau meninggal dunia”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan imam lainnya. Imam Ibnu ash-Shalah berkata, “Banyak para al-Hafizh (ahli hadits) yang menyatakan hadits ini adalah hadits shahih. Diantara mereka adalah Imam al-Hakim, al-Baihaqi dan al-Balkhi”. Al-Baihaqi berkata, “Membaca doa Qunut pada shalat Shubuh ini berdasarkan tuntunan dari empat Khulafa’ Rasyidin”.

 Yang Artinya:  Bahwa Qunut Shubuh itu pada rakaat kedua berdasarkan riwayat Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihnya. Bahwa doa Qunut itu setelah ruku’, menurut riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah bahwa ketika Rasulullah Saw membaca doa Qunut pada kisah korban pembunuhan peristiwa sumur Ma’unah, beliau membaca Qunut setelah ruku’. Maka kami Qiyaskan Qunut Shubuh kepada riwayat ini. Benar bahwa dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah Saw membaca doa Qunut sebelum ruku’. Al-Baihaqi berkata: “Akan tetapi para periwayat hadits tentang Qunut setelah ruku’ lebih banyak dan lebih hafizh, maka riwayat ini lebih utama”. Jika seseorang membaca Qunut sebelum  ruku’, Imam Nawawi berkata dalam kitab ar-Raudhah, “Tidak sah menurut pendapat yang shahih, ia mesti sujud sahwi menurut pendapat al-Ashahh”.

  4. Pernyatan Keempat:    Lafaz Qunut:

 Yang Artinya:  “Ya Allah, berilah hidayah kepadaku seperti orang-orang yang telah Engkau beri hidayah. Berikanlah kebaikan kepadaku seperti orang-orang yang telah Engkau beri kebaikan. Berikan aku kekuatan seperti orang-orang yang telah Engkau beri kekuatan. Berkahilah bagiku terhadap apa yang telah Engkau berikan. Peliharalah aku dari kejelekan yang Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkau menetapkan dan tidak ada sesuatu yang ditetapkan bagi-Mu. Tidak ada yang merendahkan orang yang telah Engkau beri kuasa. Maka Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Engkau Maha Agung”.











Dalam riwayat Imam al-Baihaqi disebutkan, setelah doa ini membaca doa:




Yang Artinya: (Segala puji bagi-Mu atas semua yang Engkau tetapkan. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu).

 Ketahuilah bahwa sebenarnya doa ini tidak tertentu. Bahkan jika seseorang membaca Qunut dengan ayat yang mengandung doa dan ia meniatkannya sebagai doa Qunut, maka sunnah telah dilaksanakan dengan itu.

Yang Artinya:  Imam membaca Qunut dengan lafaz jama’, bahkan makruh bagi imam mengkhususkan dirinya dalam berdoa, berdasarkan sabda Rasulullah Saw: “Janganlah seorang hamba mengimami sekelompok orang, lalu ia mengkhususkan dirinya dengan suatu doa tanpa mengikutsertakan mereka. Jika ia melakukan itu, maka sungguh ia telah mengkhianati mereka”. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan at-Tirmidzi. Imam at-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan”. Kemudian demikian juga halnya dengan semua doa-doa, makruh bagi imam mengkhususkan dirinya saja. Demikian dinyatakan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin. Demikian juga makna pendapat Imam Nawawi dalam al-Adzkar.

5. Pernyatan Kelima:    Mengangkat Kedua Tangan:

 Yang Artinya:  Sunnah mengangkat kedua tangan dan tidak mengusap wajah, karena tidak ada riwayat tentang itu. Demikian dinyatakan oleh al-Baihaqi. Tidak dianjurkan mengusap dada, tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini. Bahkan sekelompok ulama menyebutkan secara nash bahwa hukum melakukan itu makruh, demikian disebutkan Imam Nawawi dalam ar-Raudhah. Dianjurkan membaca Qunut di akhir Witir dan pada paruh kedua bulan Ramadhan. Demikian diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari Imam Ali dan Abu Daud dari Ubai bin Ka’ab. Ada pendapat yang mengatakan dianjurkan membaca Qunut pada shalat Witir sepanjang tahun, demikian dinyatakan Imam Nawawi dalam at-Tahqiq, ia berkata: “Doa Qunut dianjurkan dibaca (dalam shalat Witir) sepanjang tahun”. Ada pendapat yang mengatakan bahwa doa Qunut dibaca di sepanjang Ramadhan. Dianjurkan agar membaca doa Qunut riwayat Umar, sebelum Qunut Shubuh, demikian dinyatakan oleh Imam ar-Rafi’i. Imam Nawawi berkata, “Menurut pendapat alAshahh, doa Qunut rirwayat Umar dibaca setelah doa Qunut Shubuh. Karena riwayat Qunut Shubuh kuat dari Rasulullah Saw pada shalat Witir. Maka lebih utama untuk diamalkan. Wallahua’lam.

 Ikhtilaf Ulama Tentang Mengangkat Tangan Ketika Qunut:

Ulama Mazhab Syafi’I berbeda pendapat tentang mengangkat tangan dan mengusap wajah dalam doa Qunut, terbagi kepada tiga pendapat:
Pertama, yang paling shahih, dianjurkan mengangkat tangan tanpa mengusap wajah.

Kedua, mengangkat tangan dan mengusapkannya ke wajah.

Ketiga, tidak mengusap dan tidak mengangkat tangan.

Para ulama sepakat untuk tidak mengusap selain wajah, seperti dada dan lainnya. Bahkan merekamengatakan perbuatan itu makruh.

Ma’Mum Mengikuti Imam.

Pendapat Imam Ibnu Taimiah:


 Yang Artinya: Jika seorang yang bertaklid itu bertaklid dalam suatu masalah yang menurutnya baik menurut agamanya atau pendapat itu kuat atau seperti itu, maka boleh berdasarkan kesepakatan jumhur ulama muslimin, tidak diharamkan oleh Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Demikian juga pada shalat witir dan shalat lain, selayaknya bagi makmum mengikuti imamnya. Jika imamnya membaca qunut, maka ia ikut membaca qunut bersamanya. Jika imamnya tidak berqunut, maka ia tidak berqunut. Jika imamnya shalat 3 rakaat bersambung, maka ia melakukan itu juga. Jika dipisahkan, maka ia laksanakan terpisah. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa makmum tetap menyambung jika imamnya melaksanakannya terpisah. Pendapat pertama lebih shahih. Wallahu a’lam 

Pendapat Syekh Ibnu ‘Utsaimin yang pertama:

Yang Artinya: Syekh Ibnu ‘Utsaimin ditanya tentang hukum Qunut pada shalat Fardhu di belakang imam yang membaca Qunut pada shalat Fardhu?

Syekh Ibnu ‘Utsaimin menjawab: “Menurut kami, tidak ada Qunut pada shalat Fardhu, kecuali Qunut Nawazil. Akan tetapi, jika seseorang shalat di belakang imam yang membaca Qunut, maka hendaklah ia mengikuti imamnya, untuk menolak fitnah dan mempertautkan hati”

Pendapat Syekh Ibnu ‘Utsaimin yang kedua :

Yang Artinya: Syekh Ibnu ‘Utsaimin ditanya tentang hukum Qunut pada shalat Fardhu? Apa hukumnya apabila terjadi musibah menimpa kaum muslimin?

Syekh Ibnu ‘Utsaimin menjawab: “Qunut pada shalat Fardhu tidak disyariatkan, tidak layak dilaksanakan, akan tetapi jika imam membaca Qunut, maka ikutilah imam, karena berbeda dengan imam itu jelek.

Jika terjadi musibah menimpa kaum muslimin, boleh berqunut untuk memohon kepada Allah
Swt agar Allah mengangkatnya

Yang Artinya:  Jika seseorang menjadi ma’mum, apakah ia mengikuti imamnya yang membaca doa Qunut Shubuh dengang mengangkat kedua tangan dan mengucapkan amin bersama imam? Atau cukup meluruskan kedua tangan di kedua sisi tubuh?

Menjawab masalah ini kami katakan: 

Ma’mum ikut mengucapkan ‘Amin’ terhadap doa Qunut Shubuh yang dibaca imam dan ma’mum mengangkat kedua tangannya mengikuti imam, karena khawati berbeda dengan imam. Imam Ahmad bin Hanbal menyebutkan secara nash (teks) bahwa apabila seseorang menjadi ma’mum mengikuti imam yang membaca doa Qunut pada shalat Shubuh, maka ma’mum itu mesti mengikuti imamnya dan mengucapkan ‘Amin’ terhadap doa Qunut yang dibaca imam. Walaupun menurut pendapat Imam Ahmad bin Hanbal bahwa doa Qunut Shubuh itu tidak disyariatkan menurut pendapat yang masyhur dari beliau, tapi Imam Ahmad bin Hanbal tetap memberikan keringanan dalam masalah itu, artinya: keringanan untuk mengikuti imam yang membaca doa Qunut pada shalat Shubuh, karena khawatir menimbulkan khilaf yang terkadang menimbulkan perselisihan hati.

Demikianlah postingan kita kali ini tentang: Pendapat dan Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Qunut Shubuh. semoga bisa menambah wawasan keimuan kita semua. Aamin

Menolak Doa Qunut Shubuh! ini Dasar Hadits Mereka

August 05, 2018 Add Comment
Menolak Doa Qunut Shubuh! ini Dasar Hadits Mereka - Hai pembaca setia blog ceramah Zainudin MZ, setelah sebelum kita membahas dasar-dasar yang melandasi pelaksanaan doa qunut pada waktu sholat shubuh. tema postingan kali ini justru pendapat yang berseberangan, yaitu menolak qunut shubuh ini, tentu mereka juga yang menolak ini mempunyai dasar dalil yang mereka pertahankan.

menolak qunut shubuh


Disini admin bukan bermaksud membuat bingung para muslim, tetapi ada baiknya kita sampaikan kedua-keduanya, baik yang pro dengan melaksanakan qoa qunut shubuh, atau sebaliknya yang  kontra. Supaya berimbang jadi tidak beranggapan kurang fair, jadi setelah memahami keduanya, mengerti dasar-dasar hukumnya, silahkan untuk mengambil kesimpulan sendiri.

Recomendasi Bacaan:

Menolak Doa Qunut Shubuh! ini Dasar Hadits Mereka

1. Hadits yang Pertama Menolak Qunut

yang Artinya: Dari Anas bin Malik, “Sesungguhnya Rasulullah Saw membaca doa Qunut selama satu bulan, berdoa terhadap daerah-daerah Arab, kemudian meninggalkannya”. (HR. Muslim).

Hadits riwayat Anas bin Malik ini menyatakan bahwa Rasulullah Saw membaca Qunut shubuh selama satu bulan, kemudian setelah itu Rasulullah Saw  meninggalkannya. Berarti dua riwayat ini kontradiktif? Padahal periwatnya sama-sama Anas bin Malik. Satu menyatakan nabi membaca qunut hanya satu bulan. Sementara riwayat yang lain menyatakan nabi membaca Qunut Shubuh hingga meninggal dunia. Berarti ada kontradiktif?

Tidak ada kontradiktif, karena yang dimaksud dengan meninggalkannya, bukan
meninggalkan Qunut, akan tetapi meninggalkan laknat dalam Qunut. Laknatnya ditinggalkan, Qunutnya tetap dilaksanakan. Demikian riwayat al-Baihaqi: 

Yang Artinya: Dari Abdurrahman bin Mahdi, tentang hadits Anas bin Malik: Rasulullah Saw membaca Qunut selama satu bulan, kemudian beliau meninggalkannya. Imam Abdurrahman bin Mahdi berkata: “Yang ditinggalkan hanya laknat”.

Yang dimaksud dengan laknat dalam Qunut adalah:

Yang Artinya: Dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah Saw membaca Qunut selama satu bulan beliau melaknat (Bani) Ri’lan, Dzakwan dan ‘Ushayyah yang telah berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

2. Hadits yang Kedua Menolak Qunut

Yang Artinya: Jawaban terhadap hadits Sa’ad bin Thariq (nama asli Abu Malik al-Asyja’i), bahwa riwayat yang menetapkan adanya Qunut, bersama mereka itu ada tambahan pengetahuan, yang menyatakan ada Qunut Shubuh lebih banyak, maka riwayat mereka lebih dikedepankan

3. Hadits yang Ketiga Menolak Qunut

Yang Artinya: Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Rasulullah Saw tidak pernah membaca doa Qunut dalam shalat-shalatnya”.
 
Hadits riwayat Ibnu Mas’ud dha’if jiddan (lemah sekali). Karena diriwayatkan oleh Muhammad bin Jabir as-Suhaimi, statusnya: Syadid adh-Dha’f, matruk. Karena hadits ini menafikan, sedangkan hadits Anas menetapkan. Maka yang menetapkan lebih dikedepankan daripada yang menafikan, karena sebagai tambahan pengetahuan

4. Hadits yang Keempat Menolak Qunut

yang Artinya: Dari Abu Qatadah, dari Abu Mijlaz, ia berkata, “Saya shalat bersama Ibnu Umar pada shalat Shubuh, ia tidak membaca doa Qunut. Saya katakan kepada Ibnu Umar, “Saya tidak melihat engkau membaca doa Qunut”. Ibnu Umar menjawab, “Saya tidak menghafalnya dari seorang pun dari para sahabat kami”.

 

5. Hadits yang Kelima Menolak Qunut




6. Hadits yang Keenam Menolak Qunut

Alhamdulillah..demikian tadi diatas postingan mengenai dasar dalil Menolak Doa Qunut Shubuh! semoga bisa menjadi tambah wawasan keilmuan kita. Aamin

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *